Istilah manajemen kelas, sebenarnya bukan hanya membicarakan kegiatan guru dalam catat-mencatat kegiatan pembelajaran. Seperti menyiapkan daftar hadir, mengecek kehadiran siswa, dan menyiapkan silabus dan rencana pembelaran.
Inti dari manajemen kelas adalah kegiatan mengelola perilaku siswa agar senantiasa sepenuhnya terlibat dalam aktivitas belajar di kelas. Jadi yang menjadi perhatian tujuan utama manajemen kelas adalah untuk mencapai kesuksesan belajar siswa. Instrumen-instrumen yang melengkapi kelas sesungguhnya diharapkan berfungsi untuk mengatur perilaku siswa yang ada di dalam kelas.
Guru merupakan manajer belajar siswa di dalam kelas. Untuk mengelola (memenej) perilaku siswa, berarti berkaitan dengan pengorganisasian siswa, dan pengorganisasian kegiatan siswa, serta mengorganisasikan instrumen-instrumen yang berfungsi untuk tercapainya proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, yaitu siswa dapat belajar.
Pengorganisasian siswa. Sebagai makhluk sosial, siswa secara alamiah memiliki dorongan untuk berkelompok, memperkuat kelompok dan enjoy dalam kelompok. Berdasarkan teori identifikasi sosial, penguatan identitas kelompok dapat berpengaruh terhadap perilaku seseorang baik yang muncul sebagai perilaku kelompok, maupun perseorangan dengan semangat kelompok. Jadi bisa jadi pengelolaan kelas bisa berbasis kelompok siswa, dengan pertanggung jawaban perseorangan dan kelompok.
Pengelompokkan yang paling sering dibicarakan adalah pengelompokan dalam satu sesi pelajaran tertentu. Menurut perkiraan hal ini tidak akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap penjiwaan kelompok. Dalam hal ini saya mencoba mengasumsikan bahwa jika saja siswa ditempa dan 'dimanipulasi' dalam kelompok-kelompok misalnya untuk jangka waktu seminggu. Sekitar 5 menit setiap kelompok mencitrakan dirinya melalui 'yel-yel' kelompok positif dilakukan stiap pagi menjelang masuk sekolah dan sepulang sekolah. Tentu yang dimunculkan adalah kelompok-kelompok positif. Saya kira ini juga akan menggantikan identitas sosial kelompok-kelompok tawuran di jalanan. Jadi diharapkan kelompok-kelompok siswa tawuran di jalanan akan berkurang.
Ada kerjasama antar kelompok, demikian juga ada persaingan sehat antar kelompok. Pada setiap minggu komposisi kelompok berubah-rubah. Bagaimana jadinya, yah?
Siapa yang mau mengeksperimenkan gagasan ini?
Kita coba, yu! Kita coba, yu! Kita coba, yu!
Siapa mau mencoba duluan?
Bagi teman-teman yang mau mencoba, beri tahu pengembang pendidikan yah!
Atau kita diskusi dulu? Kalau begitu komentari saja tulisan ini. Mudah-mudahan menjadi gagasannya akan semakin meluas.
Tuesday, March 3, 2009
Kelompok Positif Semi Permanen bagi Siswa di Kelas
Posted by
Educational Development
at
12:24 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment