Disampaikan dalam Seminar Pendidikan pada Lembaga Kajian Profesionalitas Guru, tanggal 12 Rabi’ul Awaal 1430 H./9 Maret 2009 M. di Gedung Graha Optima, Pondok Ungu Permai (PUP) Bekasi
Oleh: Asep Nursobah
Banyak hal yang berkaitan dengan situasi individu dan kelompok siswa di sekolah/madrasah. Dari mulai siswa tidak semangat belajar, mengantuk, tidak perhatian dalam belajar, sampai tawuran di jalanan dan penyalah gunaan obat narkotika. Keadaan siswa seperti demikian itu sebenarnya tidak semuanya; masih ada siswa yang pintar, tekun dan ulet dalam belajar sehingga sukses menjadi siswa terpelajar dan terdidik. Namun demikian, setiap keadaan siswa senantiasa saling berkaitan dan antara satu keadaan dengan keadaan yang lainnya saling mempengaruhi. Kelas di sekolah menunjukkan pada sekelompok siswa pada tingkat kemampuan tertentu, sehingga perilaku siswa baik sebagai kelompok maupun sebagai individu saling mempengaruhi tehadap keadaan kelas.
Kita dapat menjadikan kelas sebagai fokus perhatian untuk menyelesaikan masalah-masalah belajar siswa, karena kelas siswa merupakan komunitas terkecil dari sistem pendidikan, baik di sekolah/madrasah maupun di perguruan tinggi. Pengelolaan kelas untuk tujuan-tujuan pencapaian kesuksesan siswa dalam belajar itu dikenal dengan istilah manajemen kelas (classroom management), yang pada awalnya kita hanya mengenal istilah pendisiplinan siswa. Manajemen kelas merupakan perkembangan praktik pengaturan perilaku siswa agar terarah kepada perilaku belajar, yang lebih kita kenal sebagai disiplin sekolah atau disiplin kelas.
Dengan demikian manajemen kelas, sebenarnya bukan hanya sebatas kegiatan guru dalam catat-mencatat kegiatan pembelajaran, atau penerapan disiplin kepada siswa. Seperti menyiapkan daftar hadir, mengecek kehadiran siswa, menyiapkan silabus, rencana dan pelaksanaan pembelajaran, serta memberikan sanksi kepada siswa. Manajemen kelas merupakan seperangkat perlengkapan (provisi) dan prosedur-prosedur yang diperlukan untuk menciptakan dan mempertahankan proses belajar pada diri siswa. Definisi ini menunjukkan kepada manajemen kelas komprehensif, untuk kegiatan pengelolaan perilaku siswa agar senantiasa sepenuhnya terlibat dalam aktivitas belajar di kelas. Jadi tujuan utama yang menjadi perhatian manajemen kelas adalah untuk mencapai kesuksesan belajar siswa. Instrumen-instrumen yang melengkapi menajemen kelas sesungguhnya diharapkan berfungsi untuk mengatur perilaku siswa yang ada di dalam kelas, sehingga keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar menjadi maksimal.
Penanggung jawab langsung manajemen kelas adalah semua elemen yang ada dalam komunitas sekolah/madrasah. Termasuk siswa sendiri bertanggung jawab terhadap manajemen kelas, karena paradigma yang digunakan saat ini adalah bahwa siswa sendiri mampu mengelola dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Pendisiplinan siswa oleh guru, wali kelas, guru Bimbingan Konseling, Wakil Kepala Sekolah/Madrasah, dan kepala sekolah, bergeser kepada paradigma bahwa siswa sendiri dapat mendisiplinkan dirinya (self discipline).
Adanya pergeseran paradigma kepada pandangan tentang kemampuan siswa untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap perilaku sendiri, bukan berarti segalanya diserahkan kepada siswa. Antara paradigma baru dengan paradigma lama dapat saling melengkapi dan saling menguatkan. Paradigma baru mempertegas tentang peran sentral siswa dalam mengelola diri sendiri, yang sesungguhnya tidak terlepas dari fasilitasi dari faktor-faktor eksternal, perilaku, dan lingkungan siswa. Wali kelas, guru mata pelajaran, Ketua Murid (KM), dan semua elemen otoritas pada warga sekolah dapat berpengaruh terhadap keadaan kelas. Dengan demikian paradigma lama juga memiliki peranan dalam menjelaskan pengaruh faktor-faktor eksternal siswa yang dapat mempengaruhi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok.
Dalam aplikasinya, pendekatan pembelajaran dapat menempati posisi yang dapat memadukan berbagai pendekatan. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang secara langsung dapat mempengaruhi situasi kelas untuk dikondisikan kepada belajar. Moore menggambarkan pendekatan-pendekatan tersebut sebagai kontinum dalam gambar sebagai berikut
Gambar: Kontinum Model Manajemen Kelas
Sumber: Moore, 2005: 404
Gambar kontinum model manajemen kelas menunjukkan model berdasarkan perbedaan pendekatan dalam manajemen kelas. Fokus utama pendekatan self-discipline approach adalah siswa. Asumsi dasar pendekatan ini ialah bahwa individu siswa dapat diandalkan untuk mengevaluasi dan merubah perilaku mereka, sehingga dapat mencapai perilaku yang tepat untuk diri sendiri dan bagi kelas secara keseluruhan. Dalam pendekatan ini fungsi guru ialah menjalin hubungan baik dengan siswa. Metode-metode yang tercakup dalam model ini adalah guru membantu siswa untuk dapat bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang dihadapinya (reality therapy, dan inner discipline), guru menjalin komunikasi yang bersahabat dan menjalin hubungan baik dengan siswa (teacher effectiveness), dan guru berusaha menciptakan suasana demokratis di kelas (beyond discipline).
Pendekatan pembelajaran juga merupakan bagian integral dalam manajemen kelas. Asumsinya adalah bahwa pembelajaran yang efektif akan meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar. Jacob Kounin (1970) memberikan perhatian utama kepada keterampilan guru dalam memberikan perhatian kepada siswa di dalam kelas.
Pedekatan yang lebih mengutamakan kepada disiplin siswa dengan pengawasan dari guru (desist approach) mengarah kepada model metode disiplin assertif. Istilah assertif sebenarnya mendekati pengertian memaksa. Namun demikian kita dapat saja paksaan secara mendidik dengan mengarahkan melalui pembelajaran yang efektif, karena daya tarik pembelajaran. Itulah model yang diajukan oleh Jones, yaitu melalui hubungan interpersonal yang menyenangkan dan bersahabat, namun tetap memberikan ketegasan dalam pelanggaran disiplin. Modifikasi perlaku juga digunakan melalui reinforcemen positif untuk perilaku yang tapat dan reinforcement negatif untuk perilaku yang tidak tepat.
Manajemen Kelas di era penerapan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
Akhir-akhir ini manajemen kelas kembali mendapat perhatian sehubungan dengan pentingnya guru sebagai manajer kelas, untuk menerapkan strategi manajemen kelas yang bersifat proaktif (preventif) dan reaktif. Secara lebih komprehensif manajemen kelas dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui berbagai strategi yang bersifat antisipatif untuk mengarahkan siswa dalam belajar. Demikian pula perlu diterapkan manajemen kelas sebagai reaksi terhadap perilaku-perilaku yang tidak mendukung terhadap proses pembelajaran, yang pada gilirannya siswa secara kelompok menjadi tidak terlibat penuh dalam proses belajar. Manajemen kelas yang efektif berhubungan erat dengan pembelajaran kelas yang efektif, melalui pengimplementasian metode-metode pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar siswa.
Guru merupakan manajer belajar siswa di dalam kelas. Untuk mengelola (memenej) perilaku siswa, berarti berkaitan dengan pengorganisasian siswa, dan pengorganisasian kegiatan siswa, serta mengorganisasikan instrumen-instrumen yang berfungsi untuk tercapainya proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, yaitu siswa dapat belajar.
Sebagai makhluk sosial, siswa secara alamiah memiliki dorongan untuk berkelompok, memperkuat kelompok dan enjoy dalam kelompok. Berdasarkan teori identifikasi sosial, penguatan identitas kelompok dapat berpengaruh terhadap perilaku seseorang baik yang muncul sebagai perilaku kelompok, maupun perseorangan dengan semangat kelompok. Jadi bisa saja pengelolaan kelas bisa berbasis kelompok siswa, dengan pertanggung jawaban perseorangan dan kelompok.
Dengan dasar pentingnya mempertimbangkan kebutuhan individualitas siswa, guru sebagai manajer kelas dapat memperkuat kemandirian belajar siswa, meningkatkan komunikasi interpersonal, dan identitas sosial siswa, yaitu:
a. Mengembangkan inisiatif siswa dalam belajar
Pengembangan inisiatif siswa dalam belajar dapat dikembangkan melalui upaya-upaya guru atau agen pembelajaran lainnya yaitu: (1) mengajukan situasi masalah belajar yang harus diselesaikan siswa melalui berbagai upaya untuk mencapai tujuan khusus dalam rangka mencapai tujuan umum dan mengaitkannya dengan kebermaknaan pencapaian tujuan tersebut bagi cita-cita serta harapan masa depan siswa, sehingga siswa sendiri memaknai belajar sebagai kebutuhan dan kepentingan sendiri; (2) mengorientasikan tindakan siswa, yaitu agar tujuan yang sudah dimiliki dan ditetapkan siswa diorientasikan ke dalam rencana strategis dalam kegiatan belajar yang mencakup kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (3) guru mendorong siswa agar pro-aktif untuk mencari solusi atas masalah belajar dengan menunjukkan cara-cara yang tepat untuk menghadapi masalah-masalah kesulitan belajar siswa dalam menghadapi suatu tugas, seperti cara-cara yang tepat untuk memahami buku pelajaran, mengingat informasi, atau melatih keterampilan tertentu, (4) mendorong dan membantu siswa agar tidak lekas menyerah dalam menyelesaikan dalam memecahkan masalah belajar, (5) dengan adanya tujuan yang dimiliki siswa, pengalaman menyelesaikan masalah belajar, maka siswa akan terdorong sendiri untuk belajar.
b. Mendorong Siswa untuk Banyak Akal dalam Belajar.
Banyak akal dalam belajar siswa ditunjukkan dengan kegiatan belajar yaitu: (1) antisipasi masa depan, dengan adanya kesadaran siswa tentang akibat yang akan diterima siswa dari keberhasilan belajar saat ini untuk masa depan mereka. Demikian pula siswa menyadari akan akibat yang akan diterima siswa di masa yang akan datang bila siswa gagal belajar saat ini, dan oleh karena itu, (2) siswa memprioritaskan belajar daripada kegiatan lain, pada saat banyaknya pilihan kegiatan yang bisa dilakukan siswa. Belajar bagi siswa adalah yang utama. (3) bahkan dengan banyaknya kesempatan berbagai kegiatan yang lebih menyenangkan, seperti banyaknya hiburan, siswa mampu menunda kesenangan sesaat seperti itu, (4) siswa memecahkan masalah sendiri dalam berbagai kegiatan belajar yang dihadapinya. Berbagai kesulitan belajar yang dihadapi siswa seringkali berkaitan dengan kesulitan dalam menghadapi tugas belajar, seperti dalam memahami suatu konsep atau suatu informasi.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk lulus dengan berbagai cara-cara manipulasi nilai oleh guru adalah prilaku yang tidak mendidik. Pengalaman siswa sendiri atau berdasarkan informasi dari orang lain, tentang kemudahan mendapatkan nilai kelulusan tanpa kerja keras siswa sendiri, bisa berakibat siswa semakin tidak berdaya dan tidak memiliki banyak akal dalam kegiatan belajar.
c. Mendorong Siswa untuk Persisten dalam Belajar.
Persisten adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar sampai tujuan tercapai, meskipun ada rintangan. Persistensi dalam belajar berkaitan dengan aktivitas pengendalian diri dalam kegiatan belajar, yaitu (1) memfokuskan perhatian, (2) menggunakan strategi belajar yang tepat, (3) mengatur waktu belajar, (4) mencari bantuan, (5) penataan lingkungan belajar, (6) memonitor hasil belajar sendiri, (7) mengevaluasi hasil belajar sendiri, (8) atribusi hasil belajar sendiri, dan (9) mereaksi diri, berkaitan dengan penggunaan strategi belajar.
Siswa perlu mengetahui penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan belajar. Guru atau agen pembelajaran yang lainnya dapat membantu mengarahkan dan mendorong siswa baik dalam keadaan puas ataupun tidak puas dengan hasil yang dicapai, agar terus belajar.
Sedangkan dari upaya meningkatkan hubungan baik antara guru dengan siswa, dapat dilakukan melalui komunikasi interpersonal, yaitu:
a. Meningkatkan saling keterbukaan, dan saling percaya antara guru dengan siswa, dan sesama siswa berkaitan dengan apa yang dirasakan, dipikirkan, yang diketahui dan yang tidak diketahui. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara terbuka mengungkapkan berbagai masalah yang berkaitan dengan apa yang dipelajari dan kondisi-kondisi yang dialami siswa dalam mempelajarinya.
b. Meningkatkan komunikasi yang penuh empati, dan saling menyambut, terutama bagi guru dengan memahami keadaan siswa.
c. Meningkatkan komunikasi yang saling mendukung dan mengatur interaksi. Saling mendukung berarti tidak mengevaluasi kepribadian orang lain, sedengkan saling mengatur intraksi adalah menyesuaiakan proses komunikasi agar terus dalam situasi yang hangat, akrab dan saling menyenangkan. Kondisi tersebut bisa dibangung melalui pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. Suasana keakraban juga bisa dibangun melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran yang tidak terbatas dalam kelas, namun juga dilakukan di luar kelas. Demikian juga hubungan antara guru dengan siswa tidak terbatas pada interaksi pembelajaran di dalam kelas, tetapi dalam suasana interaksi di masyarakat. Guru mampu memberikan penghargaan terhadap keunggulan, dan memberikan kritik terhadap perilaku siswa yang tidak produktif secara wajar. Kesempatan-kesempatan dalam forum atau antar pribadi untuk memberikan saling kritik membangun dapat dikembangkan di antara siswa dan guru dalam rangka meningkatkan proses dan hasil belajar dan pembelajaran.
d. Mengembangkan suasana komunikasi yang positif dan ekspressif. Sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, bukan didahuli oleh prasangka buruk merupakan kondisi awal untuk saling dapat menghargai. Sepatutnya guru memandang siswa sebagai sosok yang sedang mengembangkan potensi diri, sehingga guru dapat berperan menjadi fasilitator bagi siswa dalam membentuk kepribadiannya.
e. Kesejajaran dan berorientasi kepada orang lain. Guru tidak perlu mengambil jarak dengan siswa secara berlebihan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan diri dalam situasi yang penuh kekeluargaan. Guru memberikan teladan bagi siswa untuk menjadi pembicara dan pendengar yang baik sesuai alur pembicaraan.
Dari aspek penguatan identitas kelompok, yaitu:
Identitas sosial bagi siswa, mengindikasikan identifikasi diri siswa dalam lingkungan belajar, yang berkaitan dengan rasa kebersamaan, rasa memiliki dan perasaan bangga sebagai pribadi dalam kelas tertentu. Untuk meningkatkan identifikasi tersebut bisa dilakukan melalui pelibatan siswa dalam kelompok-kelompok yang menonjolkan ciri-ciri nilai kelompok yang bisa dibanggakan siswa dan dapat diterima secara umum.
Aspek penting dan pertama perlu diperhatikan berkaitan dengan identitas sosial siswa yang teridentifikasi dari aspek sosial lingkungan belajar siswa adalah agar siswa merasa diri sebagai siswa, sebagai anggota kelompok siswa, dengan ciri-ciri keanggotaan kelompok yang lebih mementingkan belajar; bukan sebaliknya, menonjolkan ciri-ciri kelompok yang “tidak terdidik”. Bila kondisi awal tersebut terwujud, maka proses transformasi pengetahuan, keterampilan dan sikap di sekolah bukanlah sesuatu yang terlalu sulit.
Penguatan identitas sosial siswa yang paling menonjol adalah dari ciri-ciri fisik yang nampak, seperti berpakaian, dan tingkah laku sehari-hari yang menunjukkan sebagai bagian dari keanggotaan kelompok sosial tertentu. Identitas sosial merupakan kebanggaan diri siswa menjadi bagian dari kelompok tertentu, yang karenanya dituntut untuk berperilaku sejalan tuntutan ciri-ciri keanggotaannya.
Monday, March 9, 2009
APLIKASI CLASSROOM MANAGEMENT DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
Posted by
Educational Development
at
7:29 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment