Monday, June 16, 2008

Nama :Iin Resmina

Nim :207 202 424

Jurusan :PAI SI Transper

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini telah berkembang sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metoda belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Dalam bidang pendidikan misalnya, saat ini telah mencapai kondisi dimana setiap guru harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan TIK baik untuk mendukung proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan kemajuan TIK dalam dunia pendidikan adalah pilihan yang tepat untuk upaya peningkatan mutu pendidikan. Satu hal yang bisa dilakukan adalah membentuk jalinan kerjasama antar sekolah dalam sebuah komunitas belajar global. Lewat cara ini setiap sekolah dapat memperoleh pengalaman dalam penyelenggaraan pembelajaran. Menurut UNESCO, hubungan kerjasama global ini merupakan salah satu komponen dari empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan, yaitu learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Dalam rangka merealisasikan learning to live together, guru dapat berfungsi sebagai fasilitator untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses learning to live together seperti yang dimaksud di depan. Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. Implementasi dari hubungan antar komunitas global menuntut kesiapan infrastruktur komunikasi semacam jaringan internet dan sumber daya manusia yang tidak “golput” (golongan yang luput teknologi). Artinya, setiap guru dan lembaga pendidikan saat ini harus sudah mengintegrasikan segala aktivitasnya dalam dunia teknologi informasi. Setiap guru sudah harus trampil berkomunikasi secara global dan segala administrasi pendidikan sudah harus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Tulisan ini akan memaparkan bagaimana langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan oleh sekolah untuk merealisasikan sekolah berbasis TIK dengan segala keterbatasan sarana, infrastruktur dan sumber daya manusia. Upaya-upaya yang dilakukan ini adalah sejalan dengan tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini.

MAMPU MEMBIMBING SISWA UNTUK MENEMUKAN, MEMBANDINGKAN DAN MENGANALISIS INFORMASI DARI INTERNET

Teknologi informasi dan komunikasi akan mempercepat borderless world (dunia tanpa batas)*. Kemajuan-kemajuan dalam teknologi dan informasi akan mendorong ketanpabatasan dalam 4 I ( informasi, industri, investasi & individual customers ). Akan terjadi tarikmenarik dalam 4 I ini antara kepentingan nasional dan kepentingan pihak-pihak lain dalam dunia global.

Pemerintah Indonesia benar-benar menyadari pentingnya teknologi informasi dan komunikasi untuk menjaga kepentingan nasional dan masyarakat Indonesia dalam tarik menarik 4 I dalam dunia yang terglobalkan. Setidaknya ada tiga inisiatif pemerintah yang layak dicatat. Pertama, masuknya Ditjen Postel ke dalam Departemen Komunikasi dan Informasi. Kedua, pembentukan DeTIKnas (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional) yang diketuai oleh Presiden SBY langsung. Ketiga, diresmikannya program Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) oleh Presiden SBY 14 Maret lalu di Bali.

Program Jardiknas bercita-cita membangun akses dan pemanfaatan maksimal teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan Indonesia. Pemerataan akses teknologi informasi menjadi prioritas pertama. Inisiatif jardiknas ingin memeratakan akses teknologi informasi dan komunikasi ke ratusan ribu (sekitar 300 ribu) titik sekolah di Indonesia, baik SD, SMP, SMU, SMK maupun perguruan tinggi. Dalam memeratakan akses ini Jardiknas tidak terpaku pada satu teknologi tertentu, mengingat keberagaman teknologi telekomunikasi yang ada dan geografis di Indonesia yang rumit. Jardiknas mengelaborasi berbagai macam teknologi, baik yang berbasis kabel (seperti xDSL) maupun nir kabel (seperti satelit dan WiMAX).

Dalam pemerataan akses teknologi informasi ini, penyediaan devais juga menjadi masalah. Setidaknya dibutuhkan segera setidaknya 100 ribu unit komputer untuk didistribusikan pada sekolah-sekolah yang “miskin” komputer, bahkan yang belum memiliki komputer sama sekali. Bila pada satu dekade yang lalu Singapura telah mencanangkan rasio komputer dengan siswa adalah satu berbanding dua, maka dengan inisiatif ini dunia pendidikan Indonesia mungkin akan mencapai rasio komputer dengan siswa satu berbanding empat belas dalam beberapa tahun ke depan. Mungkin Indonesia akan menjadi negeri pertama yang menggunakan komputer US$ 100 dengan aplikasi terbatas untuk mengejar rasio komputer dengan siswa ini.

Akses teknologi informasi dan komunikasi akan menjadi sia-sia tanpa pemanfaatan yang maksimal dari teknologi akses yang telah disediakan. Untuk pemanfaatan akses ini setidaknya perlu dua hal. Pertama, adalah konten yang menarik dan dibutuhkan oleh dunia pendidikan. Misalnya, bahan-bahan yang bisa dipelajari dalam rangka menyiapkan Ujian Negara. Contoh lain adalah, bahan-bahan standar uji kompetensi baik untuk guru maupun siswa. Juga, misalnya, bahan mobile self learning untuk bahasa Inggris. Kedua, dan mungkin ini yang lebih penting, adalah kesadaran (awareness) dari komunitas pendidikan , yaitu siswa dan guru, akan pentingnya memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, -khususnya jardiknas-, dalam mendukung kegiatan pendidikan dan kegiatan kreatif lain.Bila hal kedua ini muncul, maka dengan menerapkan konsep sharing knowledge melalui media blogging , milis, ensiklopedi bersama seperti wikipedia, konten juga bisa dibangun bersama-sama dan dinikmati bersama-sama dalam suatu upaya yang voluntary dan menyenangkan. Kita bisa melihat kasus NTT DoCoMo i-mode yang sukses malahan karena partisipasi publik yang menciptakan lebih dari 100 ribu situs i-mode ilegal (tidak resmi).

Acara ” Sosialisasi dan Survey Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional) Untuk 16.000 Siswa SMU/K se-kota Bandung yang diselenggarakan di Sasana Budaya Ganesa ITB pada tanggal 2 sd 5 April 2007 bertujuan meningkatkan awareness (kesadaran) masyarakat pendidikan Jawa Barat, dan pada khususnya Bandung , akan pentingnya teknologi informasi dan komunikasi serta khususnya pentingnya Jardiknas dalam pendidikan. Dan melalui peningkatan awareness ini, diharapkan dunia pendidikan di Jawa Barat, dan pada khususnya Bandung , akan dapat mendorong tumbuhnya traffic maupun pemanfaatan Jardiknas. Selain itu, dalam acara ini akan dilakukan survey jardiknas dan perilaku siswa/i terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Hasil survey ini amat diperlukan untuk mengetahui technography siswa, tingkat kesadaran teknologi informasi, tingkat pengenalan terhadap jardiknas . Ketiga hal ini pada gilirannya akan diperlukan untuk merancang program jardiknas ke depan yang lebih match (sesuai) dengan kondisi di lapangan.

Acara ini diselenggarakan oleh kerjasama Program Jardiknas (Depdiknas Pusat), Disdik Jabar, diorganized oleh IZI consulting, - sebuah lembaga konsultasi pendidikan yang berkedudukan di Jl. Ambon 19 Bandung, dan disupport sepenuhnya oleh PT. Telkom Tbk. PT. Telkom Tbk mendukung sepenuhnya acara ini karena ini sesuai dengan kebijakan CSR (Corporate Social Responsibility) Telkom yang memprioritaskan dukungan pada bidang pendidikan.

Dalam acara ini, PT Telkom akan menyerahkan secara simbolis bantuan 100 (seratus) buah PC (personal computer) baru ke sekolah-sekolah di Jawa Barat yang belum memiliki komputer. Pemrioritasan untuk sekolah yang belum memiliki komputer adalah dalam rangka mewujudkan visi pemerataan dan mengurangi gap antara yang mampu dan yang tidak mampu, dan merupakan perwujudan dari pemerataan kesempatan untuk maju dan pemerataan kesempatan untuk mengakses informasi bagi seluruh siswa/i di Jawa Barat. Dari sisi kepentingan dunia telekomunikasi nasional, diharapkan hal ini juga akan mengurangi digital divide (kesenjangan digital) antara sekolah-sekolah yang tertinggal dengan sekolah-sekolah yang telah maju. Penyerahan akan dilakukan langsung oleh SM Divisi Enterprise Service PT Telkom, Ibu Nurul Hermina kepada Kasubdis DIKMENTI Bpk. Drs.H. Syarief Hidayat, M.Pd.

Dalam acara ini IZI consulting akan menampilkan pakar-pakar teknologi informasi dan komunikasi nasional dari Jardiknas maupun ITB untuk memberikan pencerahan kepada siswa/i SMU/K di Bandung dalam bentuk talkshow edutainment. Beberapa pakar yang akan hadir adalah Budi Rahardjo , Ph. D (Pakar Teknologi Informasi ITB ), DR. Ir. Dimitri Mahayana, M. Eng ( Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, Chairman Lembaga Riset SHARING VISION), , Ir. Khairul Ummah, MT ( Dosen Jurusan Teknik Penerbangan ITB, penulis buku best seller SEPIA), Ir. Agus Ngermanto ( Alumnus Jurusan Teknik Elektro ITB, penulis buku best seller QUANTUM QUOTIENT)), dan dipandu oleh Akay – penyiar radio 99ers

Melalui acara ini seluruh penyelenggara mengharapkan beberapa hal berikut :

Munculnya kesadaran kolektif (collective awareness) masyarakat pendidikan Bandung dan Jawa Barat mengenai pentingnya teknologi informasi dan komunikasi, khususnya jardiknas, dalam dunia pendidikan. Kesadaran kolektif ini diharapkan dapat memunculkan energi kolektif untuk mengakselerasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya jardiknas, dalam meningkatkan proses pendidikan.

Menciptakan model kerjasama yang baik dari berbagai elemen masyarakat, khususnya ABG (Academician, Business & Government) – akademisi, bisnis dan pemerintah- dalam bersama-sama, bahu membahu membangun pendidikan nasional. Dalam contoh kasus event ini, A (Academician) diwakili oleh IZI Consulting, B (Business) diwakili oleh PT Telkom Tbk dan G(Government) diwakili oleh Jardiknas dan Disdik Jabar.

Meningkatnya keunggulan kompetitif Indonesia dan Jabar pada khususnya melalui karena kualitas manusia mengalami peningkatan akibat dukungan akses informasi yang baik di dunia pendidikan.


Komentar:

Tulisan ini cukup bagus. Namun demikian saya hawatir, bila penulis telah banyak mengutip tulisan orang lain tetapi tidak disebutkan sumbernya.

Thanks
Asep Nursobah

0 comments: